Upaya Mencegah Hepatitis Akut

A. Pendahuluan

Hepatitis adalah penyakit yang menyebabkan peradangan pada hati karena toxin/racun, seperti bahan kimia atau obat-obatan ataupun agent penyebab infeksi seperti Virus. Berdasarkan dari jenisnya penyebab terjadinya Hepatitis dibagi menjadi 2 jenis yakni Infeksi dan Hepatitis non infeksi. Pada Hepatitis non infeksi terjadi adanya radang pada hati yang diakibatkan oleh penyebab yang bukan sumber infeksi, seperti bahan kimia, minuman alkohol, dan penyalahgunaan obat obatan. Hepatitis jenis non infeksi termasuk drug induced Hepatitis, tidak tergolong dalam penyakit menular, karena penyebab terjadi Hepatitis karena radang bukan oleh agen infeksi seperti jamur, bakteri, mikoorganisme dan virus (Siswanto, 2020).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya ( Acute hepatitis of unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah. Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan terus bertambah. Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (<5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Perancis (2), Romania (1) dan Belgia (1).

Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam. Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus (Kemenkes RI, 2022).


B. Upaya Mencegah Hepatitis Akut

Sambil menunggu informasi lebih lanjut mengenai penyebab penyakit Hepatitis Akut, masyarakat diharapkan untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat seperti :

  • Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun

Rutin mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, dapat mencegah terjadinya penularan berbagai macam penyakit infeksi. Cuci tangan pakai sabun sebagai upaya preventif dalam melindungi diri dari berbagai penyakit menular. Cuci tangan menggunakan sabun dapat kita lakukan pada waktu-waktu berikut, sebelum menyiapkan makanan, sebelum dan sesudah makan, setelah buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB), setelah membuang ingus, setelah membuang dan atau menangani sampah, kemudian setelah bermain/memberi makan/memegang hewan, serta setelah batuk atau bersin pada tangan kita. Cuci tangan pakai sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah berjangkitnya penyakit. Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya pada kedua tangan. Mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada kedua tangan (Desiyanto, Djannah, 2013).

  • Menggunakan air bersih

Pastikan Air yang dikonsumsi bersih dan sudah matang saat diminum. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 menyatakan bahwa air minum yang aman (layak) bagi kesehatan adalah air minum yang memenuhi persyaratan secara fisik, mikrobiologis, kimia, dan radioaktif. Secara fisik, air minum yang sehat adalah tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna serta memiliki total zat padat terlarut, kekeruhan, dan suhu sesuai ambang batas yang ditetapkan. Secara mikrobiologis, air minum yang sehat harus bebas dari bakteri E.Coli dan total bakteri koliform (Kemenkes RI, 2019).

  • Makan makanan yang Sehat

Selain makanan yang bersih baik dari bahan, pengolahan dengan alat makan dan tempat penyajian maupun lingkungan, pencegahan penyakit Hepatitis ini bisa dilakukan dengan mengurangi makan makanan mentah yang terkontaminasi. Sebagian besar penyebab penularan Hepatitis terjadi karena makanan yang dikonsumsi kurang terjaga dengan baik kebersihannya (Siswanto, 2020).

  • Melakukan aktivitas fisik

Pencegahan penyakit Hepatitis dengan meningkatkan daya tahan tubuh karena jika daya tahan tubuh kuat akan terbentuk imun tubuh yang kuat maka serangan virus Hepatitis dari luar pun bisa diatasi. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga serta istirahat yang cukup. Olahraga yang teratur dan tidak berlebihan dapat dilakukan minimal 30 menit perhari atau 15 menit di pagi hari dan 15 menit di sore hari atau 45 menit selama 4 – 5 kali per minggu baik dengan olahraga jalan maupun jogging (Siswanto, 2020).

  • Tidak berbagi barang pribadi atau memakai secara bersama-sama

Penggunaan barang yang pribadi memang sebaiknya di gunakan seorang diri dan tidak di gunakan secara bersama oleh orang lain. Barang yang digunakanpun bisa menjadi media penularan penyakit Hepatitis.

  • Menggunakan masker

Penggunaan APD (alat perlindungan diri) diwajibkan bagi petugas kesehatan atau masyarakat yang melakukan aktifitas berisiko seperti kontak dengan orang sakit atau berada di ruang tertutup, dengan memakai masker dan sarung tangan.

  • Pemberian vaksin HB0 pada bayi

Pemberian vaksin HB0 pada bayi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk melakukan pencegahan terjadinya penularan Hepatitis B. Sangat dianjurkan imunisasi Hepatitis B pada bayi baru lahir diberikan pada bayi usia < 24 jam sesudah kelahiran bersamaan dengan pemberian vitamin K (Permenkes RI, 2015).

4 langkah penanganan Hepatitis Akut :

  • Waspada gejala awal seperti diare, mual, muntah, sakit perut, dan dapat disertai demam ringan.
  • Jangan menunggu muncul gejala lanjutan seperti kulit dan mata kuning, agar tidak terlambat.
  • Jika muncul gejala awal, segera bawa pasien ke puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan
  • Jika terjadi penurunan kesadaran, segera bawa pasien ke rumah sakit dengan fasilitas ICU Anak.

Daftar Pustaka

Desiyanto, Djannah, 2013. Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan Cairan Pembersih Tangan Antiseptik (Hand Sanitizer) Terhadap Jumlah Angka Kuman. Vol.7, No.2 pp. 55-112 ISSN: 1978-0575. https://core.ac.uk/ download/pdf/324200135.pdf
Kemenkes RI, 2022. Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut Yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology). Surat Edaran. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/docum ent/download/ wB5rQb9O2a
Pertiwi, 2020. Distribusi Kejadian Hepatitis B Menurut Cakupan Imunisasi Hb-0 Dan Cakupan K4 Di Jawa Timur. Volume 4 Nomor 1 ISSN : 2339-1731 https://jurnal.unej.ac.id/index.php/ IKESMA/article/download/15673/86 79/#:~:text=Program%20imunisasi%20Hb%2D0%20diberikan,di%20tempat%20pelayanan%20ibu%20bersalin.
Permenkes RI, 2015. Penanggulangan Hepatitis Virus Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kesehatan Republik Indonesia. http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._53_ttg_Penanggulangan_Hepatitis_Virus_.pdf
Siswanto, 2020. Epidemiologi Penyakit Hepatitis. Samarinda : Mulawarman University PRESS. https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/1234 56789/6028/Buku%20Sis%20Hepatitis%20%28Edited%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y